CeritaHot - Namaku Robert mahasiswa di sebuah universitas terkenal di Surakarta. Di kampungku sebuah desa di pinggiran kota Sragen ada seorang gadis, Yunita namanya. Yunita merupakan gadis yang cantik, berkulit kuning dengan body yang padat didukung postur tubuh yang tinggi membuat semua kaum Adam menelan ludah dibuatnya. Begitu juga dengan aku yang secara diam-diam menaruh hati padanya walaupun umurku 5 tahun dibawahnya, tapi rasa ingin memiliki dan nafsuku lebih besar dari pada mengingat selisih umur kami.
Kebetulan rumah Mbak Yunita tepat di samping rumahku dan rumah itu kiranya tidak mempunyai kamar mRobert di dalamnya, melainkan bilik kecil yang ada di luar rumah. Kamar Mbak Yunita berada di samping kYunitan rumahku, dengan sebuah jendela kaca gelap ukuran sedang. Kebiasaan Mbak Yunita jika tidur lampu dalam rumahnya tetap menyala, itu kuketahui karena kebiasaan burukku yang suka mengintip orang tidur, aku sangat terangsang jika melihat Mbak Yunita sedang tidur dan akhirnya aku melakukan onani di depan jendela kamar Mbak Yunita.
Waktu itu aku pulang dari kuliah lewat belakang rumah karena sebelumnya aku membeli rokok di warung yang berada di belakang rumahku. Saat aku melewati bilik Mbak Yunita, aku melihat sosok tubuh yang sangat kukenal yang hanya terbungkus handuk putih bersih, tak lain adalah Mbak Yunita, dan aku menyapanya,
“Mau mandi Mbak,” sambil menahan perasaan yang tak menentu.
“Iya Robert, mau ikutan..” jawabnya dengan senyum lebar, aku hanya tertawa menanggapi candanya.
Terbersit niat jahat di hatiku, perasaanku menerawang jauh membanyangkan tubuh Mbak Yunita bila tidak tertutup sehelai benangpun.
Niat itupun kulakukan walau dengan tubuh gemetar dan detak jantung yang memburu, kebetulan waktu itu keadaan sunyi dengan keremangan sore membuatku lebih leluasa. Kemudian aku mempelajari situasi di sekitar bilik tempat Mbak Yunita mandi, setelah memperkirakan keadaan aman aku mulai beroperasi dan mengendap-endap mendekati bilik itu. Dengan detak jantung yang memburu aku mencari tempat yang strategis untuk mengintip Mbak Yunita mRobert dan dengan mudah aku menemukan sebuah lubang yang cukup besar seukuran dua jari.
Dari lubang itu aku cukup leluasa menikmati kemolekan dan keindahan tubuh Mbak Yunita dan seketika itu juga detak jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya, tubuhku gemetar hingga kakiku terasa tidak dapat menahan berat badanku. Kulihat tubuh yang begitu sintal dan padat dengan kulit yang bersih mulus begitu merangsang setiap nafsu lelaki yang melihatnya, apalagi sepasang panyudara dengan ukuran yang begitu menggairahkan, kuning langsat dengan puting yang coklat tegak menantang setiap lelaki.
Kemudian kupelototi tubuhnya dari atas ke bawah tanpa terlewat semilipun. Tepat di antara kedua kaki yang jenjang itu ada segumpal rambut yang lebat dan hitam, begitu indah dan saat itu tanpa sadar aku mulai menurunkan reitsletingku dan memegangi kemaluanku, aku mulai membayangkan seandainya aku dapat menyetubuhi tubuh Mbak Yunita yang begitu merangsang birahiku. Terasa darahku mengalir dengan cepat dan dengusan nafasku semakin memburu tatkala aku merasakan kemaluanku begitu keras dan berdenyut-denyut.
Aku mempercepat gerakan tanganku mengocok kemaluanku, tanpa sadar aku mendesah hingga mengusik keasyikan Mbak Yunita mandi dan aku begitu terkejut juga takut ketika melihat Mbak Yunita melirik lubang tempatku mengintipnya mRobert sambil berkata,
“Robert ngintip yaaa…”
Seketika itu juga nafsuku hilang entah kemYunita berganti dengan rasa takut dan malu yang luar biasa. Kemudian aku istirahat dan mengisap rokok Mild yang kubeli sebelum pulang ke rumah, kemudian kulanjutkan kegiatanku yang terhenti sesaat.
Setelah aku mulai beraksi lagi, aku terkejut untuk kedua kalinya, seakan-akan Mbak Yunita tahu akan kehadiranku lagi. Ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya dengan meliuk-liukkan tubuhnya dan meremas-remas payudaranya yang begitu indah dan ia mendesah-desah kenikmatan. Disaat itu juga aku mengeluarkan kemaluanku dan mengocoknya kuat-kuat. Melihat permainan yang di perlihatkan Mbak Yunita, aku sangat terangsang ingin rasanya aku menerobos masuk bilik itu tapi ada rasa takut dan malu. Terpaksa aku hanya bisa melihat dari lubang tempatku mengintip.
Kemudian Mbak Yunita mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangannya yang halus disertai goyangan-goyangan pinggul, tangan kanannya berhenti tepat di liang kewanitaannya dan mulai mengusap-usap bibir kemaluannya sendiri sambil tangannya yang lain di masukkan ke bibirnya. Kemudian jemari tangannya mulai dipermainkan di atas kemaluannya yang begitu menantang dengan posisi salah satu kaki diangkat di atas bak mRobert, pose yang sangat merangsang kelelakianku.
Aku merasa ada sesuatu yang mendesak keluar di kemaluanku dan akhirnya sambil mendesah lirih,
“Aahhkkkhh…” aku mengalami puncak kepuasan dengan melakukan onani sambil melihat Mbak Yunita masturbasi.
Beberapa saat kemudian aku juga mendengar Mbak Yunita mendesah lirih,
“Oohhh.. aaahh..” dia juga mencapai puncak kenikmatannya dan akhirnya aku meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas.
Di suatu sore aku berpapasan dengan Mbak Yunita.
“Sini Robert,” ajaknya untuk mendekat, aku hanya mengikuti kemauannya, terbersit perasaan aneh dalam benakku.
“Mau kemana sore-sore gini,” tanyanya kemudian.
“Mau keluar Mbak, beli rokok..” jawabku sekenanya.
“Di sini aja temani Mbak Yunita ngobrol, Mbak Yunita kesepian nih..” ajak Mbak Yunita.
Dengan perlahan aku mengambil tempat persis di depan Mbak Yunita, dengan niat agar aku leluasa memandangi paha mulus milik Mbak Yunita yang kebetulan cuma memakai rok mini diatas lutut.
“Emangnya pada kemana, Mbak..” aku mulai menyelidik.
“Bapak sama Ibu pergi ke rumah nenek,” jawabnya sambil tersenyum curiga.
“Emang ada acara apa Mbak,” tanyaku lagi sambil melirik paha yang halus mulus itu ketika rok mini itu semakin tertarik ke atas.
Sambil tersenyum manis ia menjawab,
“Nenek sedang sakit Robert, yaa… jadi aku harus nunggu rumah sendiri.”
Aku hanya manggut-manggut.
“Eh… Robert ke dalam yuk, di luar banyak angin,” katanya.
“Mbak punya CD bagus lho,” katanya lagi.
Tanpa menunggu persetujuanku ia langsung masuk ke dalam, menuju TV yang di atasnya ada
VCD player dan aku hanya mengikutinya dari belakang, basa-basi aku bertanya,
“Filmnya apa Mbak..”
Sambil menyalakan VCD, Mbak Yunita menjawab,
“Titanic Robert, udah pernah nonton.”
Aku berbohong menjawab,
“Belum Mbak, filmnya bagus ya..”
Mbak Yunita hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
Setelah film terputar, tanpa sadar aku tertidur hingga larut malam dan entah mengapa Mbak Yunita juga tidak membangunkanku. Aku melihat arloji yang tergantung di dinding tembok di atas TV menandakan tepat jam 10 malam. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang nampak sepi dan tak kutemui Mbak Yunita.
Pikiranku mulai dirasuki pikiran-pikiran yang buruk dan pikirku sekalian tidur disini aja. Memang aku sering tidur di rumah teman dan orang tuaku sudah hafal dengan kebiasaanku, akupun tidak mencemaskan jika orang tuaku mencariku. Waktu berlalu, mataku pun tidak bisa terpejam karena pikiran dan perasaanku mulai kacau, pikiran- pikiran sesat telah mendominasi sebagian akal sehatku dan terbersit niat untuk masuk ke kamar Mbak Yunita.
Aku terkejut dan nafasku memburu, jantungku berdetak kencang ketika melihat pintu kamar Mbak Yunita terbuka lebar dan di atas tempat tidur tergolek sosok tubuh yang indah dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk ke atas setengah lutut hingga kelihatan sepasang paha yang gempal dan di tengah selakangan itu terlihat dengan jelas CD yang berwarna putih berkembang terlihat ada gundukan yang seakan-akan penuh dengan isi hingga mau keluar.
Nafsu dan darah lelakiku tidak tertahan lagi, kuberanikan mendekati tubuh yang hanya dibungkus dengan kain tipis dan dengan perlahan kusentuh paha yang putih itu, kuusap dari bawah sampai ke atas dan aku terkejut ketika ada gerakan pada tubuh Mbak Yunita dan aku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Sesaat kemudian aku kembali keluar melihat keadaan dan posisi tidur Mbak Yunita yang menambah darah lelakiku berdesir hebat, dengan posisi kaki mengangkang terbuka lebar seakan-akan menantang supaya segera dimasuki kemaluan laki-laki.
Aku semakin berani dan mulai naik ke atas tempat tidur, tanpa pikir panjang aku mulai menjilati kedua kaki Mbak Yunita dari bawah sampai ke belahan paha tanpa terlewat semilipun. Seketika itu juga ia menggelinjang kenikmatan dan aku sudah tidak mempedulikan rasa takut dan malu terhadap Mbak Yunita. Sampai di selangkangan, aku merasa kepalaku dibelai kedua tangan yang halus dan akupun tidak menghiraukan kedua tangan itu. Lama-kelamaan tangan itu semakin kuat menekan kepalaku lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Mbak Yunita yang masih terbukus CD putih itu. Dia menggoyang-goyangkan pantatnya, tanpa pikir panjang aku menjilati bibir kemaluannya hingga CD yang semula kering menjadi basah terkena cairan yang keluar dari dalam liang kewanitaan Mbak Yunita dan bercampur dengan air liurku.
Aku mulai menyibak penutup liang kewanitaan dan menjilati bibir kemaluan Mbak Yunita yang memerah dan mulai berlendir hingga Mbak Yunita terbangun dan tersentak. Secara refleks dia menampar wajahku dua kali dan mendorong tubuhku kuat-kuat hingga aku tersungkur ke belakang dan setelah sadar ia berteriak tidak terlalu keras.
“Robert kamu ngapaiiin…” dengan gemetar dan perasaan yang bercampur aduk antara malu dan takut.
“Maafkan aku Mbak, aku lepas kontrol,” dengan terbata-bata dan aku meninggalkan kamar itu.
Dengan perasaan berat aku menghempaskan pantatku ke sofa biru yang lusuh. Sesaat kemudian Mbak Yunita menghampiriku, dengan tergagap aku mengulangi permintaan maafku, “Ma..ma..afkan… aku Mbak..” Mbak Yunita cuma diam entah apa yang dipikirkan dan dia duduk tepat di sampingku. Beberapa saat keheningan menyelimuti kami berdua dan kamipun disibukkan dengan pikiran kami masing-masing sampai tertidur.
Pagi itu aku bangun, kulihat Mbak Yunita sudah tidak ada lagi di sisiku dan sesaat kemudian hidungku memcium aroma yang memaksa perutku mengeluarkan gemuruh yang hebat. Mbak Yunita memang ahli dibidang masak. Tiba-tiba aku mendengar bisikan yang merdu memanggil namaku.
“Robert ayo makan dulu, Mbak udah siapin sarapan nih,” dengan nada lembut yang seolah-olah tadi malam tidak ada kejadian apa-apa.
“Iya Mbak, aku cuci muka dulu,” aku menjawab dengan malas.
Sesaat kemudian kami telah melahap hidangan buatan Mbak Yunita yang ada di atas meja, begitu lezatnya masakan itu hingga tidak ada yang tersisa, semua kuhabiskan. Setelah itu seperti biasa, aku menyalakan rokok Mild kesayanganku.
“Robert maafkan Mbak tadi malam ya,” Mbak Yunita memecah keheningan yang kami ciptakan.
“Harusnya aku tidak berlaku kasar padamu Robert,” tambahnya.
Aku jadi bingung dan menduga-duga apa maksud Mbak Yunita, kemudian akupun menjawab,
“Seharusnya aku yang meminta maaf pada Mbak, aku yang salah,” kataku dengan menundukkan kepala.
“Tidak Robert.. aku yang salah, aku terlalu kasar kepadamu,” bisik Mbak Yunita.
Akupun mulai bisa menangkap kemYunita arah perkataan Mbak Yunita.
“Kok bisa gitu Mbak, kan aku yang salah,” tanyaku memancing.
“Nggak Robert.. aku yang salah,” katanya dengan tenang.
“Karena aku teledor, tapi nggak pa-pa kok Robert.”
Aku terkejut mendengar jawaban itu.
“Robert, Mbak Yunita nanya boleh nggak,” bisik Mbak Yunita mesra.
Dengan senyum mengembang aku menjawab, “Kenapa tidak Mbak.”
Dengan ragu-ragu Mbak Yunita melanjutkan kata-katanya
“Kamu udah punya pacar Robert..” suara itu pelan sekali lebih mirip dengan bisikan.
“Dulu sih udah Mbak tapi sekarang udah bubaran.” Kulihat ada perubahan di wajah Mbak Yunita.
“Kenapa Robert,” dan akupun mulai bercerita tentang hubunganku dengan Maria teman SMP-ku dulu yang lari dengan
laki-laki lain beberapa bulan yang lalu, Mbak Yunita pun mendengarkan dengan sesekali memotong ceritaku.
“Kalo Mbak Yunita udah punya cowok belum,” tanyaku dengan berharap.
“Belum tuh Robert, lagian siapa yang mau sama perawan tua seperti aku ini,” jawabnya dengan raut wajah yang diselimuti mendung.
“Kamu nggak cari pacar lagi Robert,” sambung Mbak Yunita.
Dengan mendengus pelan aku menjawab.
“Aku takut kejadian itu terulang, takut kehilangan lagi.”
Dengan senyum yang manis dia mendekatiku dan membelai rambutku dengan mesra.
“Kasian kamu Robert..” lalu Mbak Yunita mencium keningku dengan lembut, aku merasa ada sepasang benda yang lembut dan hangat menempel di punggungku.
Sesaat kemudian perasaanku melayang entah kemYunita, ada getaran asing yang belum pernah kurasakan selama ini.
“Robert boleh Mbak jadi pengganti Maria,” bisik Mbak Yunita mesra.
Aku bingung, perasaanku berkecamuk antara senang dan takut.
“Robertk takut Mbak,” jawabku lirih.
“Mbak nggak akan meninggalkanmu Robert, percayalah,” dengan kecupan yang lembut.
“Bener Mbak, Mbak Yunita berani sumpah tidak akan meninggalkan Robert,” bisikku spontan karena gembira.
Mbak Yunita mengangguk dengan senyumnya yang manis, kamipun berpelukan erat seakan-akan tidak akan terpisahkan lagi.
Setelah itu kami nonton Film yang banyak adegan romantis yang secara tidak sadar membuat kami berpelukan, yang membuat kemaluanku berdiri. Entah disengaja atau tidak, kemudian Mbak Yunita mulai merebahkan kepalanya di pangkuanku dan aku berusaha menahan nafsuku sekuat mungkin tapi mungkin Mbak Yunita mulai menyadarinya.
“Robert kok kamu gerak terus sih capek ya.”
Dengan tersipu malu aku menjawab,
“Eh… nggak Mbak, malah Robertk suka kok.”
Mbak Yunita tersenyum,
“Tapi kok gerak-gerak terus Robert..”
Aku mulai kebingungan,
“Eh.. anu kok.”
Mbak Yunitak menyahut,
“Apaan Robert, bikin penasaran aja.”
Kemudian Mbak Yunita bangun dari pangkuanku dan mulai memeriksa apa yang bergerak di bawah kepalanya dan iapun tersenyum manis sambil tertawa.
“Hii.. hii.. ini to tadi yang bergerak,”
tanpa canggung lagi Mbak Yunita membelai benda yang sejak tadi bergerak-gerak di dalam celanaku dan aku semakin tidak bisa menahan nafsu yang bergelora di dalam dadaku. Kuberanikan diri, tanganku membelai wajahnya yang cantik dan Mbak Yunita seperti menikmati belaianku hingga matanya terpejam dan bibirnya yang sensual itu terbuka sedikit seperti menanti kecupan dari seorang laki-laki.
Tanpa pikir panjang, kusentuhkan bibirku ke bibir Mbak Yunita dan aku mulai melumat habis bibir yang merah merekah dan kami saling melumat bibir. Aku begitu terkejut ketika Mbak Yunita memainkan lidahnya di dalam mulutku dan sepertinya lidahku ditarik ke dalam mulutnya, kemudian tangan kiri Mbak Yunita memegang tanganku dan dibimbingnya ke belahan dadanya yang membusung dan tangan yang lain sedari tadi asyik memainkan kemaluanku. Akupun mulai berani meremas-remas buah dadanya dan Mbak Yunitapun menggelinjang kenikmatan
“Te..rus… Robert aaahh…” Kemudian dengan tangan yang satunya lagi kuelus dengan lembut paha putih mulus Mbak Yunita, semakin lama semakin ke atas.
Tiba-tiba aku dikejutkan tangan Mbak Yunita yang semula ada di luar celYunita dan sekarang sudah mulai berani membuka reitsletingku dan menerobos masuk meremas-remas buah zakarku sambil berkata:
“Sayang.. punyamu besar juga ya..”
Akupun mulai berani mempermainkan kemaluan Mbak Yunita yang masih terbungkus CD dan iapun semakin menggeliat seperti cacing kepYunitasan,
“Aaahh lepas aja Robert..”
Sesaat kemudian CD yang melindungi bagian vital Mbak Yunita sudah terhempas di lantai dan akupun mulai mempermainkan daging yang ada di dalam liang senggama Mbak Yunita.
“Aaahhh enak, enak Robert masukkan aja Robert,” jariku mulai masuk lebih dalam lagi, ternyata Mbak Yunita sudah tidak perawan lagi, miliknya sudah agak longgar dan jariku begitu mudahnya masuk ke liang kewanitaannya.
Satu demi satu pakaian kami terhempas ke lantai sampai tubuh kami berdua polos tanpa selembar benang pun. Mbak Yunita langsung memegang batang kemaluanku yang sudah membesar dan tegak berdiri, kemudian langsung diremas-remas dan diciumnya. Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan kenikmatan yang diberikan Mbak Yunita saat bibir yang lembut itu mengecup batang kemaluanku hingga basah oleh air liurnya yang hangat. Lalu lidah yang hangat itu menjilati hingga menimbulkan kenikmatan yang tak dapat digambarkan.
Tidak puas menjilati batang kemaluanku, Mbak Yunita memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang sensual itu hingga amblas separuhnya, secara refleks kugoyangkan pantatku maju mundur dengan pelan sambil memegangi rambut Mbak Yunita yang hitam dan lembut yang menambah gairah seksualku dan aroma harum yang membuatku semakin terangsang.
Setelah puas, Mbak Yunita menghempaskan pantatnya di sofa. Akupun paham dan dengan posisi kaki Mbak Yunita mengangkang menginjak kedua pundakku, aku langsung mencium paha yang jenjang dari bawah sampai ke atas. Mbak Yunita menggelinjang keenakan, “Aaahhh…” desahan kenikmatan yang membuatku tambah bernafsu dan langsung bibir kemaluannya yang merah merekah itu kujilati sampai basah oleh air liur dan cairan yang keluar dari liang kenikmatan Mbak Yunita.
Mataku terbelalak saat melihat di sekitar bibir kenikmatan itu ditumbuhi bebuluan yang halus dan lebat seperti rawa yang di tengahnya ada pulau merah merekah. Tanganku mulai beraksi menyibak kelebatan bebuluan yang tumbuh di pinggir liang kewanitaan, begitu indah dan merangsangnya liang sorga Mbak Yunita ketika klitoris yang memerah menjulur keluar dan langsung kujilati hingga Mbak Yunita meronta-ronta kenikmatan dan tangan Mbak Yunita memegangi kepalaku serta mendorong lebih ke dalam kedua pangkal pahanya sambil menggoyanggoyangkan pinggulnya hingga aku kesulitan bernafas. Tanganku yang satunya meremas-remas dan memelintir puting susu yang sudah mengeras hingga menambah kenikmatan bagi Mbak Yunita.
“Robert.. udah… aaahhh, masukin.. ajaaa.. ooohh…” aku langsung berdiri dan siap-siap memasukkan batang kemaluanku ke lubang senggama Mbak Yunita.
Begitu menantang posisi Mbak Yunita dengan kedua kaki mengangkang hingga kemaluannya yang merah mengkilat dan klitorisnya yang menonjol membuatku lebih bernafsu untuk meniduri tubuh Mbak Yunita yang seksi dan mulus itu.
Perlahan namun pasti, batang kemaluanku yang basah dan tegak kumasukkan ke dalam liang kewanitaan yang telah menganga menantikan kenikmatan sorgawi. Setelah batang kemaluanku terbenam kami secara bersamaan melenguh kenikmatan,
“Aaahh…” dan mulai kugoyangkan perlahan pinggulku maju mundur, bagaikan terbang ke angkasa kenikmatan tiada tara kami reguk bersama.
Bibir kamipun mulai saling memagut dan lidah Mbak Yunita mulai bermain-main di dinding rongga mulutku, begitu nikmat dan hanggat. Liang senggama Mbak Yunita yang sudah penuh dengan lendir kenikmatan itupun mulai menimbulkan suara yang dapat meningkatkan gairah seks kami berdua. Tubuh kamipun bermRobertkan keringat.
Tiba-tiba terdengar teriakan memanggil Mbak Yunita.
“Aaaan… Yunitaaa..”
Kami begitu terkejut, bingung dan grogi dengan bergegas kami memungut pakaian yang berserakan di lantai dan memakainya. Tanpa sadar kami salah ambil celYunita dalam, aku memakai CD Mbak Yunita dan Mbak Yunita juga memakai CD-ku. Kemudian aku keluar dari pintu belakang dan Mbak Yunita membukakan pintu untuk bapak dan ibunya.
Keesokan harinya aku baru berniat mengembalikan CD milik Mbak Yunita dan mengambil CD-ku yang kemarin tertukar. Aku berjalan melewati lorong sempit diantara rumahku dan rumah Mbak Yunita. Kulihat Mbak Yunita sedang mencuci pakaian di dekat sumur belakang rumahku. Setelah keadaan aman, aku mendekati Mbak Yunita yang asyik mencuci pakaian termasuk CD-ku yang kemarin tertukar. Sambil menghisap rokok sampurna A Mild,
“Mbak nih CD-nya yang kemarin tertukar,” sambil duduk di bibir sumur, sekilas kami bertatap muka dan meledaklah tawa kami bersamaan,
“Haa.. Haaaa…” mengingat kejadian kemarin yang sangat menggelikan. Setelah tawa kami mereda, aku membuka percakapan,
“Mbak kapan main lagi, kan kemarin belum puas.” Dengan senyum yang manis,
“Kamu mau lagi Robert, sekarang juga boleh..” Aku jadi terangsang sewaktu posisi Mbak Yunita membungkuk dengan mengenakan daster tidur dan dijinjing hinggga di atas lutut.
“Emang ibu Mbak Yunita sudah berangkat ke sawah, Mbak,” sambil menempelkan kemaluanku yang mulai mengeras ke pantat Mbak Yunita.
“Eh…eh jangan disini Robert, entar diliat orang kan bisa runyam.”
Kemudian Mbak Yunita mengajakku masuk ke kamar mRobert, sesaat kemudian di dalam kamar mRobert kami sudah berpelukan dan seperti kesetYunitan aku langsung menciumi dan menjilati leher Mbak Yunita yang putih bersih.
“Ohhh nggak sabaran baget sih Robert,” sambil melenguh Mbak Yunita berbisik lirih.
“Kan kemaren terganggu Mbak.”
Setelah puas mencium leher aku mulai mencium bibir Mbak Yunita yang merah merekah, tanganku pun mulai meremas-remas kedua bukit yang mulai merekah dan tangan yang satunya lagi beroperasi di bagian kemaluan Mbak Yunita yang masih terbungkus CD yang halus dan tangan Mbak Yunita pun mulai menyusup di dalam celYunitaku, memainkan batang kemaluanku yang mulai tegak dan berdenyut.
Sesaat kemudian pakaian kami mulai tercecer di lantai kamar mRobert hingga tubuh kami polos tanpa sehelai benangpun. Tubuh Mbak Yunita yang begitu seksi dan menggairahkan itu mulai kujilati mulai dari bibir turun ke leher dan berhenti tepat di tengah kedua buah dada yang ranum dengan ukuran yang cukup besar. Kemudian sambil meremas-remas belahan dada yang kiri puting susu yang kecoklatan itu kujilati hingga tegak dan keras.
“Uhhh.. ahhh.. terus Robert,”
Mbak Yunita melenguh kenikmatan ketika puting susu yang mengeras itu kugigit dan kupelintir menggunakan gigi depanku.
“Aaahhh.. enak Mbak..”
Mbak Yunitapun mengocok dan meremas batang kemaluanku hingga berdenyut hebat.
Kemudian aku duduk di bibir bak mRobert dan Mbak Yunita mulai memainkan batang kemaluanku dengan cara mengocoknya.
“Ahhh.. uhhhhh..” tangan yang halus itu kemudian meremas buah zakarku dengan lembut dan bibirnya mulai menjilati batang kemaluanku. Terasa nikmat dan hangat ketika lidah Mbak Yunita menyentuh lubang kencing dan memasukkan air liurnya ke dalamnya. Setelah puas menjilati, bibir Mbak Yunita mulai mengulum hingga batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya.
“Aahhh… uuuhhff…” lidah Mbak Yunita menjilat kemaluanku di dalam mulutnya, kedua tanganku memegangi rambut yang lembut dan harum yang menambah gairah sekaligus menekan kepala Mbak Yunita supaya lebih dalam lagi hingga batang kemaluanku masuk ke mulutnya.
“Gantian dong Robert,”
Mbak Yunita mengiba memintaku bergantian memberi kenikmatan kepadanya. Kemudian aku memainkan kedua puting susu Mbak Yunita, mulutku mulai bergerak ke bawah menuju selakangan yang banyak ditumbuhi bebuluan yang halus dan lebat. Mbak Yunitapun tanpa dikomando langsung mengangkangkan kedua kakinya hingga kemaluannya yang begitu indah merangsang setiap birahi laki-laki itu kelihatan dan klitorisnya yang kemerahan menonjol keluar, akupun menjilati klitoris yang kemerahan itu hingga berlendir dan membasahi bibir kemaluan Mbak Yunita.
“Aaahhh… aaahh… terus… enak..”
Mbak Yunita menggelinjang hebat dengan memegangi kepalaku, kedua tangannya menekan lebih ke dalam lagi.
Setelah liang kenikmatan bak Yunita mulai basah dengan cairan yang mengkilat dan bercampur dengan air liur, kemudian aku memasukkan kedua jariku ke dalam liang kewanitaan Mbak Yunita dan kumainkan maju mundur hingga Mbak Yunita menggelinjang hebat dan tidak tahan lagi.
“Robert.. ooohh.. ufff cepetan masukin aja..”
Dengan posisi berdiri dan sebelah kaki dinaikkan ke atas bibir bak mRobert, Mbak Yunita mulai menyuruh memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya yang sejak tadi menunggu hujaman kemaluanku. Kemudian aku memegang batang kemaluanku dan mulai memasukkan ke liang kewanitaan Mbak Yunita.
“Aahhh…” kami bersamaan merintih kenikmatan, perlahan kuayunkan pinggulku maju mundur dan Mbak Yunita mengikuti dengan memutar-mutar pinggulnya yang mengakibatkan batang kemaluanku seperti disedot dan diremas daging hidup hingga menimbulkan kenikmatan yang tiada tara.
Kemudian kuciumi bibir Mbak Yunita dan kuremas buah dadanya yang montok hingga Mbak Yunita memejamkan matanya menahan kenikmatan.
“Ahhh… uhhh…” Mbak Yunita melenguh dan berbisik,
“Lebih kenceng lagi Robert.”
Kemudian aku lebih mempercepat gerakan pantatku hingga menimbulkan suara becek,
“Jreb.. crak.. jreb.. jreb…” suara yang menambah gairah dalam bermain seks hingga kami bermRobertkan keringat.
Setelah bosan dengan posisi seperti itu, Mbak Yunita mengubah posisi dengan membungkuk, tangannya berpegangan pada bibir bak mRobert kemudian aku memasukkan batang kemaluanku dari belakang. Terasa nikmat sekali ketika batang kemaluanku masuk ke liang senggama Mbak Yunita. Terasa lebih sempit dan terganjal pinggul yang empuk. Kemudian tanganku memegangi leher Mbak Yunita dan tangan yang lain meremas puting susunya yang bergelantungan.
“Uuuhhh… ahhh enak Robert,” dan aku semakin mempercepat gerakan pantatku.
“Uuuhhh.. uuuhhh Robert, Mbak mau keluar,” akupun merasakan dinding kemaluan Mbak Yunita mulai menegang dan berdenyut begitu juga batang kemaluanku mulai berdenyut hebat.
“Uuuhhhk.. aahh.. aku juga Mbak..”
Kemudian tubuh Mbak Yunita mengejang dan mempercepat goyangan pinggulnya lalu sesaat kemudian dia mencapai orgasme,
“Aaahh… uuuhh…”
Terasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku dan suara decakan itupun semakin membecek
“Jreeb… crak… jreb..”
Akupun tak tahan lagi merasakan segumpalan sesuatu akan keluar dari lubang kencingku.
“Aaahhh… ooohhh… Mbak Yunitaaa…”
Terasa tulang-tulangku lepas semua, begitu capek. Akupun tetap berada di atas tubuh sintal Mbak Yunita. Kemudian kukecup leher dan mulut Mbak Yunita,
“Makasih Mbak, Mbak Yunita memang hebat..”
Mbak Yunitapun cuma tersenyum manis.
Cerita Sex, Cerita Semi Dewasa, Cerita Malam , Cerita hot , Cerita Panas 2017



No comments:
Post a Comment