CeritaHot - Aku berusia 37 tahun saat ini, sudah beristeri dan mempunyai 4 orang
anak. Rumahku terletak di pinggiran kota Jakarta yang bisa disebut
sebagai kampung. Orang tuaku tinggal di sebuah perumahan yang cukup
elite tidak jauh dari rumahku. Orang tuaku memang bisa dibilang
berkecukupan, sehingga mereka bisa mempekerjakan pembantu. Nah pembantu
orang tuaku inilah yang menjadi ‘pemeran utama’ dalam ceritaku ini.
Bapakku baru dua bulan yang lalu meninggal dunia, jadi sekarang ibuku
tinggal sendiri hanya ditemani Enny, pembantunya yang sudah hampir 4
tahun bekerja disitu. Enny berumur 17 tahun, dia masih belum bersuami.
Wajahnya tidak cantik, bahkan giginya agak tonggos sedikit, walaupun
tidak bisa disebut jelek juga. Tapi yang menarik dari
Enny ini adalah
bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 164 cm, dengan pinggul yang
bulat dan dada berukuran 36. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali aku
memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibuku ini, sambil
membandingkannya dengan tubuh isteriku yang sudah agak mekar. Hari itu,
karena kurang enak badan, aku pulang dari kantor jam 10.00 WIB, sampai
di rumah, kudapati rumahku kosong. Rupanya isteriku pergi, sedang
anak-anakku pasti sedang sekolah semua. Akupun mencoba ke rumah ibuku,
yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari rumahku. Biasanya kalau
tidak ada di rumah, isteriku sering main ke rumah ibuku, entah untuk
sekedar ngobrol dengan ibuku atau membantu beliau kalau sedang sibuk apa
saja. Sampai di rumah ibuku, ternyata disanapun kosong, cuma ada Enny,
sedang memasak. Kutanya Enny, “En, Bu Dewi (nama isteriku) kesini
nggak?” “Iya Pak, tadi kesini, tapi terus sama temannya” jawab Enny.
“Terus Ibu sepuh (Ibuku) kemana?” Tanyaku lagi. “Tadi dijemput Bu Ina
(Adikku) diajak ke sekolah Yogi (keponakanku)” “Oooh” sahutku pendek.
“Masak apa En? tanyaku sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa,
mataku langsung melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yang
aduhai itu. “Ini Pak, sayur sop” Rupanya dia ngerasa juga kalau aku
sedang memperhatikan pantat dan dadanya. “Pak Irwan ngeliatin apa sih”
Tanya Enny. Karena selama ini aku sering juga bercanda sama dia, akupun
menjawab, “Ngeliatin pantat kamu En. Kok bisa seksi begitu sih En?”
“Iiih Bapak, kan Ibu Dewi juga pantatnya gede” “Iya sih, tapi kan lain
sama pantat kamu En” “Lain gimana sih Pak?” tanya Enny, sambil matanya
melirik kearahku. Aku yakin, saat itu memang Enny sedang memancingku
untuk kearah yang lebih hot lagi. Merasa mendapat angin, akupun menjawab
lagi, “Iya, kalo Bu Dewi kan cuma menang gede, tapi tepos” “Terus, kalo
saya gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit. Kurang ajar, pikirku.
Lirikannya langsung membuat tititku berdiri. Langsung aku berjalan
kearahnya, berdiri di belakang Enny yang masih mengaduk ramuan sop itu
di kompor. “Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih
kencang”, jawabku sambil tanganku meraba pinggulnya. “Idih Bapak,
emangnya saya motor bisa kencang” sahut Enny, tapi tidak menolak saat
tanganku meraba pinggulnya. Mendengar itu, akupun yakin bahwa Enny
memang minta aku ‘apa-apain’. Akupun maju sehingga tititku yang sudah
berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak
sekali karena Enny memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak SMU)
yang terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali tititku yang keras
itu menempel di belahan pantat Enny yang, seperti kuduga, memang padat
dan kencang. “Apaan nih Pak, kok keras? tanya Enny genit. “Ini namanya
sonny En, sodokan nikmat” sahutku. Saat itu, rupanya sop yang dimasak
sudah matang. Ennypun mematikan kompor, dan dia bersandar ke dadaku,
sehingga pantatnya terasa menekan tititku. Aku tidak tahan lagi mendapat
sambutan seperti ini, langsung tanganku ke depan, ku remas kedua buah
dadanya. Alamaak, tanganku bertemu dengan dua bukit yang kenyal dan
terasa hangat dibalik kaos dan branya. Saat kuremas, Enny sedikit
menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak” sambil kepalanya ditolehkan
kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali. Kulihat matanya terpejam
menikmati remasanku. Kukecup bibirnya (walaupun agak terganggu oleh
giginya yang sedikit tonggos itu), dia membalas kecupanku. Tak lama
kemudian, kami saling berpagutan, lidah kami saling belit dalam gelora
nafsu kami. TItitku yang tegang kutekantekankan ke pantatnya,
menimbulkan sensasi luar biasa untukku (kuyakin juga untuk Enny).
Sekitar lima menit, keturunkan tangan kiriku ke arah pahanya. Tanpa
banyak kesukaran akupun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit
lembab di bagian memeknya. Kusentuh memeknya dengan lembut dari balik
CDnya, dia mengeluh kenikmatan, “Ssshh, aahh, Pak Irwan, paak.. jangan
di dapur dong Pak” Dan akupun menarik tangan Enny, kuajak ke kamarnya,
di bagian belakang rumah ibuku. Sesampai di kamarnya, Enny langsung
memelukku dengan penuh nafsu, “Pak, Enny sudah lama lho pengen ngerasain
punya Bapak” “Kok nggak bilang dari dulu En?” tanyaku sambil membuka
kaos dan roknya. Dan.. akupun terpana melihat pemandangan menggairahkan
di tubuh pembantu ibuku ini. Kulitnya memang tidak putih, tapi mulus
sekali. Buah dadanya besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Sementara
pinggang kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan pantatnya bulat dan
padat sekali. Rupanya Enny tidak mau membuang waktu, diapun segera
membuka kancing bajuku satu persatu, melepaskan bajuku dan segera
melepaskan celana panjangku. Sekarang kami berdua hanya mengenakan
pakaian dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan aku hanya CD saja. Kami
berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yang lebih
besar lagi. Kurasakan kehangatan kulit tubuh Enny meresap ke kulit
tubuhku. Kemudian lidahku turun ke lehernya, kugigit kecil lehernya, dia
menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang semakin menambah
gairahku, “Aahh, Bapak”. Tanganku melepas kait branya, dan bebaslah
kedua buah dada yang indah itu. Langsung kuciumi, kedua bukit kenyal itu
bergantian. Kemudian kujilati pentil Enny yang berwarna coklat, terasa
padat dan kenyal (Beda sekali dengan buah dada isteriku), lalu
kugigit-gigit kecil pentilnya dan lidahku membuat gerakan memutar
disekitar pentilnya yang langsung mengeras. Kurebahkan Enny ditempat
tidurnya, dan kulepaskan CDnya. Kembali aku tertegun melihat keindahan
kemaluan Enny yang dimataku saat itu, sangat indah dan menggairahkan.
Bulunya tidak terlalu banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok
adalah kemontokan vagina Enny. Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal,
sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya
kemerahan. “Pak, jangan diliatin aja dong, Enny kan malu” Kata Enny.
Aku sudah tidak mempunyai daya untuk bicara lagi, melainkan kutundukkan
kepalaku dan bibirkupun menyentuh vagina Enny yang walaupun kakinya
dibuka lebar, tapi tetap terlihat rapat, karena ketebalan bibir
vaginanya itu. Enny menggelinjang, menikmati sentuhan bibirku di
klitnya. Kutarik kepalaku sedikit kebelakang agar bisa melihat vagina
yang sangat indah ini. “Enny, memek kamu indah sekali, sayang” “Pak
Irwan suka sama memek Enny? tanya Enny. “Iya sayang, memek kamu indah
dan seksi, baunya juga enak” jawabku sambil kembali mencium dan
menghirup aroma dari vagina Enny. “Mulai sekarang, memek Enny cuma untuk
Pak Irwan” Kata Enny. “Pak Irwan mau kan?” “Siapa sih yang nggak mau
memek kayak gini En?” tanyaku sambil menjilatkan lidahku ke vaginanya
kembali. Enny terlihat sangat menikmati jilatanku di klitorisnya.
Apalagi saat kugigit klitorisnya dengan lembut, lalu lidahku ku masukkan
ke liang kenikmatannya, dan sesekali kusapukan lidahku ke lubang
anusnya. “Oooh, sshshh, aahh.. Pak Irwan, enak sekali Pak. Terusin ya
Pak Irwan sayang” Sepuluh menit, kulakukan kegiatan ini, sampai dia
menekan kepalaku dengan kuat ke vaginanya, sehingga aku sulit
bernafas”Pak Irwan.. aahh, Enny nggak kuat Pak.. sshh”Kurasakan kedua
paha Enny menjepit kepalaku bersamaan dengan itu, kurasakan vagina Enny
menjadi semakin basah. Enny sudah mencapai orgasme yang pertama. Enny
masih menghentak-hentakkan vaginanya kemulutku, sementara air maninya
meleleh keluar dari vaginanya. Kuhirup cairan kenikmatan Enny sampai
kering. Dia terlihat puas sekali, matanya menatapku dengan penuh rasa
terima kasih. Aku senang sekali melihat dia mencapai kepuasan. Tak lama
kemudian dia bangkit sambil meraih kemaluanku yang masih berdiri tegak
seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluanku kedalam mulutnya, dan
mulai menjilati kepala kemaluanku. Ooouugh, nikmatnya, ternyata Enny
sangat memainkan lidahnya, kurasakan sensasi yang sangat dahsyat saat
giginya yang agak tonggos itu mengenai batang kemaluanku. Agak sakit
tapi justru sangat nikmat. Enny terus mengulum kemaluanku, yang semakin
lama semakin membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya
batang kemaluanku, sambil lidah dan mulutnya masih terus mengirimkan
getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kemaluanku. “Pak
Irwan, Enny masukin sekarang ya Pak?” pinta Enny. Aku mengangguk, dan
dia langsung berdiri mengangkangiku tepat di atas kemaluanku.
Digenggamnya batang kemaluanku, lalu diturunkannya pantatnya. Di bibir
vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluanku, yang otomatis
menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kemaluanku ke tengah
lobang vaginanya. Dia turunkan pantatnya, dan.. slleepp.. sepertiga
kemaluanku sudah tertanam di vaginanya. Enny memejamkan matanya, dan
menikmati penetrasi kemaluanku. Aku merasakan jepitan yang sangat erat
dalam kemaluan Enny. Aku harus berjuang keras untuk memasukkan seluruh
kemaluanku ke dalam kehangatan dan kelembaban vagina Enny. Ketika
kutekan agak keras, Enny sedikit meringis. Sambil membuka matanya, dia
berkata, “Pelan dong Pak Irwan, sakit nih, tapi enak banget”. Dia
menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai akhirnya seluruh
kemaluanku lenyap ditelan keindahan vaginanya. Kami terdiam dulu, Enny
menarik nafas lega setelah seluruh kemaluanku ‘ditelan’ vaginanya. Dia
terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku merasa kemaluanku seperti
disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, tapi sangat terasa dan
enaak sekali. Ruaar Biasaa! Kemaluan Enny menyedot kemaluanku! Belum
sempat aku berkomentar tentang betapa enaknya vaginanya, Ennypun mulai
membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama
semakin cepat dan lincah gerakan Enny. Waw.. kurasakan kepalaku hilang,
saat dia ‘mengulek’ kemaluanku di dalam vaginanya. Enny merebahkan
badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Buah dadanya yangbesar menekan
dadaku, dan.. astaga.. sedotan vaginanya semakin kuat, membuat aku
hampir tidak bertahan. Aku tidak mau orgasme dulu, aku ingin menikmati
dulu vagina Enny yang ternyata ada ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi.
Maka, kudorong tubuh Enny ke atas, sambil kusuruh lepas dulu, dengan
alasan aku mau ganti posisi. Padahal aku takut ‘kalah’ sama dia. Lalu
kusuruh Enny tidur terlentang, dan langsung kuarahkan kemaluanku ke
vaginanya yang sudah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun masih agak
sempit, tapi karena sudah banyak pelumasnya, lebih mudah kali ini
kemaluanku menerobos lembah kenikmatan Enny. Kumainkan pantatku turun
naik, sehingga tititku keluar masuk di lorong sempit Enny yang sangat
indah itu. Dan, sekali lagi akupun merasakan sedotan yang fantastis dari
vagina Enny. Setelah 15 menit kami melakukan gerakan sinkron yang
sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala
tititku. “Enny, aku udah nggak kuat nih, mau keluar, sayang”, kataku
pada Enny. “Iya Pak, Enny juga udah mau keluar lagi nih. Oohh, sshh,
aahh.. bareng ya Pak Irwan.., cepetin dong genjotannya Pak” pinta Enny.
Akupun mempercepat genjotanku pada lobang vagina Enny yang luar biasa
itu, Enny mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan
memutar yang sangat erotis, ditambah dengan sedotan alami didalam
vaginanya. Akhirnya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi, sambil
mengerang panjang, tubuhku mengejang. “Enny, hh.. hh, aku keluar
sayaang” Muncratlah air maniku ke dalam vaginanya. Di saat bersamaan,
Enny pun mengejang sambil memeluk erat tubuhku. “Pak Irwaan, Enny juga
keluar paakk, sshh, aahh”. Aku terkulai di atas tubuh Enny. Enny masih
memeluk tubuhku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, masih
merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya itu. Nafas kami memburu,
keringat tak terhitung lagi banyaknya. Kami berciuman. “Enny, terima
kasih yaa, memek kamu enak sekali” Kataku. “Pak Irwan suka memek Enny?”
“Suka banget En, abis ada empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium
bibirnya. Kembali kami berpagutan. “Dibandingin sama Bu Dewi, enakan
mana Pak?” pancing Enny. “Jauh lebih enak kamu sayang” Enny tersenyum.
“Jadi, Pak Irwan mau lagi dong sama Enny lain kali. Enny sayang sama Pak
Irwan” Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan memeluk Enny. Pembantu
ibuku yang sekarang jadi kekasih gelapku.
Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Mesum, Cerita Ngentot. Cerita Panas 2017



No comments:
Post a Comment